top of page

Taiwan Trip (eat&eat)

  • Writer: Wanda Lie
    Wanda Lie
  • Jul 26, 2018
  • 5 min read

Updated: Mar 25, 2019



Wow baru sadar kalau sudah hampir 1 bulan Wanda belum menulis post baru. Akhirnya hari ini kumpulin niat menulis, selama ini bawaannya mager, padahal setiap sudah mulai mengetik pasti keterusan, haha.


Ok hari ini Wanda mau menulis tentang beberapa makanan yang Wanda makan selama jalan-jalan di Taiwan, karena Wanda bukan food blogger / food expert, jadi ini bukan post tentang must try food in Taiwan or best food in Taiwan ya temans, hanya sedikit tulisan mengenai sebagian makanan yang Wanda makan selama di sana dan pendapat Wanda yang tentunya subjectif, pure pendapat pribadi Wanda. Dan di akhir post ini Wanda mau bagi sedikit tips untuk lidah Indonesia yang memang terbiasa akan masakan kaya bumbu.


List makanan yang Wanda makan akan Wanda bagi sesuai tempat yah :

1. JiuFen Old Street

Tempat ini rame banget dipenuhi dengan turis-turis, karena JiuFen Old Street ini adalah sebuah jalan kecil yang kanan kirinya dipenuhi toko kecil yang berjualan souvenir, makanan, rumah makan, cafe etc. Sepanjang jalan bisa milih-milih mau makan apa, sambil juga liat-liat mau beli oleh-oleh apa.

Pertama kami makan bakso kuah yang ada tahu balut baksonya juga, baksonya lumayan enak, tapi Wanda merasa kalau ada sesuatu yang kurang di kuahnya (hayoo tebak kurang apa?).

Setelah itu kami melihat mochi yang ditata rapi di etalase, memanggil-manggil dengan bentuknya yang bulat menggemaskan. Kami pun mencoba mochi ini. Tidak jauh berbeda dengan mochi pada umumnya yang bertekstur kenyal-kenyal lembut.

Di sini kami tidak banyak makan, karena sibuk melihat toko-toko yang menjual hal-hal yang menarik. Cape jalan lalu mampirlah kami membeli es serut dengan topping mangga, ice cream vanila-strawberry dan mochi yang terbuat dari ubi ungu dan kuning. OMG, es serut nya enak banget menurut Wanda, mangganya manis, kenyalnya mochi dan ice cream yang legit. Apalagi toko es ini menyediakan view menghadap ke laut dan bukit-bukit. Uh lalaa.


2. Hualien

Hualien adalah kota di pinggir laut yang menyajikan pemandangan yang asli memanjakan mata (Wanda bahas di post khusus tempat-tempat yang Wanda kunjungi selama di Taiwan ya).

Di sini Wanda memilih tinggal di rumah penduduk yang menyediakan B&B (bed&breakfast) yang Wanda booking melalui Airbnb. Mereka juga menyediakan makan malam khas penduduk asli full set yang dapat di pesan 1 hari sebelum check in.

Ini minuman yang disajikan oleh Lao Ban B&B di sana, minuman terbuat dari soda yang dicampur dengan sari bunga bernama Blue Pea atau Butterfly Pea yang mereka petik dari sekitar rumah mereka yang dikelilingi alam yang masih sangat asri. *Lao Ban = boss.

Malam harinya kami di suguhi full set dari makanan khas penduduk lokal. Asli ini enak, walau ada beberapa sayur yang Wanda tidak tau namanya, dengan porsi super banyak untuk 1 orang. Dijelaskan oleh Lao Ban bahwa semua ini asli mereka dapatkan dari alam sekitar :

- samcan babi hutan

- ikan bakar

- tumisan tanaman pakis

- rumput laut yang di ambil di pantai dekat B&B

- tumisan sayur dengan daging sapi (sayurnya seperti asparagus tapi bukan)

- gorengan olahan ubi di balut dengan biji-bijian yang mirip dengan wijen

- ketan manis kukus dibungkus dengan daun pisang

- lalu juga ada tumbuhan yang menempel di pohon ditumis bersama buah kecil kuning yang rasanya sedikit asem

- disertai nasi/ketan yang di masak dengan menggunakan bambu kecil, dan untuk memakannya kita harus memecahkan dulu bambunya dengan memukul-mukul sekuat tenaga bambu tersebut ke batu keras. Pengalaman yang sangat menarik untuk Wanda. Happy!

Lalu Wanda juga jatuh cinta dengan sarapan yang disediakan, presentasi dan rasanya sungguh sebanding. Mirip spring roll tapi di isi dengan abon, kol ungu dan sejenis sayur kurus kerempeng mirip taoge yang ternyata bernama alfalfa sprouts. Ditemani dengan buah naga segar dan teh hangat. Made my morning! ❤


Setelah menginap di pinggiran kota Hualien, kami menginap di tengah kota kecil ini, dan mengunjungi Dongdamen night market :

Roti yang digoreng berbalut telur diisi dengan kol dan daging sapi berbumbu black pepper yang super lembut, kami mencoba roti ini karena antrian nya super panjang.

Mochi bakar ini memiliki tekstur yang sangat lembut dan tidak begitu memiliki rasa yang istimewa, hanya mengandalkan susu kental manis. Dan Kami juga mencoba seaweed okonomiyaki.

Di sebelah kiri namanya green onion/scallion pancake dengan telor serta topping kol dan daging. Lalu diberi saus coklat mirip kecap dengan cabe, rasanya asin manis, serta pedas dan asem sedikit. Ini juga enak walau ada yang kurang sedikit lagi, iyaaak kurang asin alias kurang garam, haha. Dan di sebelah kanan adalah tomat berbalut permen, Wanda pikir tomatnya akan sangat asam, namun ternyata permen ini enak lho temans.

Keesokan harinya kami juga mencoba sarapan di rumah makan yang banyak di review dan dibahas di blog-blog turis maupun Taiwanese yang sudah pernah melakukan perjalanan ke Hualien. Rumah makan ini ramai dan tutup disiang hari. Crepe isi telur dadar, roti isi daun bawang, roti kosong balur wijen, pao berisi daging, cakue yang dimakan bersama susu kacang kedelai.

Juga mencoba Pork Ribs noodle soup di restoran lokal bernama Jing Xiang Pork Ribs noodle, haucek kurang sedikit aja, iyak garaam lagi.


3. Taipei

Di Taipei tentunya wajib mengunjungi 2 night market yang terkenal wajib dikunjungi yaitu Shilin Night Market dan Raohe Night Market :

Tetapi disini Wanda lupa foto beberapa makanan, karena sibuk langsung hap-hap-hap, haha. Sekarang sudah lupa-lupa ingat makan apa aja, tapi yang masih teringat jelas itu ketika mencoba giant squid fried and crispy crab, well mencoba 1 kali saja cukup karena ternyata susah dikunyah giant squid nya, apalagi tahun lalu Wanda masih punya pagar di gigi. Lalu yang difoto adalah waffle bentuk karakter kartun lucu, buah peach potong yang dicampur dengan garam buah dan cabe bubuk, lalu yg terakhir ramen fedass, makannya sampai berurai air mata.

Di Taipei kami juga sering sekali makan di mini market, terutama Papa Caat yang selalu bersemangat jalan-jalan ke 7eleven dan Family mart untuk memborong makanan. Dikarenakan memang mini market di Taiwan menyajikan banyak pilihan makanan yang sesuai lidah kami.

Tempat makan paling berkesan buat Wanda selama di Taiwan adalah tempat makan yang menyajikan steamboat ini. Full service, kualitas dan suasana restoran sangat nyaman, makanannya pun enak. Dengan kuah collagen dan mala soup yang pekat dan bergizi karena ditambahkan hati babi sebagai kaldu dan juga ginseng. Seperti biasa Papa Caat selalu bersemangat ketika memesan makanan, sehingga lagi-lagi kami kewalahan menghabiskan makanan.

Yuhuu, ada yang tau restoran Din Tai Fung? Tentu pernah denger ya nama restoran yang satu ini di Jakarta. Yups, restoran ini berasal dari Taiwan. Jadi kami ingin mencoba di tempat tempat aslinya. Restorannya penuh, dengan turis-turis terutama turis Jepang dan juga penduduk lokal. Hmm menurut kami, lebih enak makan Din Tai Fung yang di Jakarta, masih dengan alasan yang sama, kurang bumbu. XD

Emiiek kuah dan fried dumpling, yeyeyee, excited. Diseruput pertama, gurih enak dari kaldunya tanpa ada rasa berlebihan. Seruput kedua dan ketiga, W mulai mencari garam, haha, tapi sayangnya di meja tidak ada. Lalu Wanda meminta tolong Vera untuk memintakan garam kepada pelayan restoran. Pertama Vera menolak karena Vera mengatakan nanti mereka tersinggung merasa masakannya kurang enak. Tetapi Wanda masih ingin menambahkan garam. Akhirnya Vera menyerah dan benar ketika pelayan restorannya datang membawakan garam, ia langsung menanyakan,

"Apakah rasanya kurang enak?"

"Oh bukan Bu, kami orang Indonesia memang suka makan makanan yang asin" jawab Vera.

"Makan garam terlalu banyak itu tidak sehat lho." tambah si Ibu.

Wanda baru benar percaya bahwa orang Taiwan juga memperhatikan apa yang mereka makan, ini salah satu alasan kenapa banyak makanan yang Wanda coba selama di Taiwan kebanyakan kurang asin.


Ok dikarenakan alasan di atas, sedikit tips dari Wanda apabila ingin wisata kuliner di Taiwan :

1. Bawalah garam di botol kecil, sehingga apabila makanan yang dipesan kurang asin, temans dapat menambahkan sedikit garam.

2. Cabai di Taiwan juga sangat jarang, sehingga sebotol boncabe akan sangat membantu bagi penikmat pedas.


Happy eating! ❤

Comments


bottom of page